Tahura – Maribaya

Ini perjalanan keduaku bersama anak BCB (Backpacker Community of Bandung). Sebenarnya males juga ngitungi. Tapi ya… begitulah adanya. Seperti biasa jam kumpul adalah 06.58 wib. Kali ini start point kita di terminal Dago. Seperti biasa juga aku terlambat :) Tiba di terminal Dago pukul 07.30  wib. Ternyata dah banyak sekali yang kumpul. Bakalan asik nih perjalanan klp rame gini pikirku. Untungnya KorWil kita juga belum datang. Ga parah2 banget deh gue :ngakak
Kusempatkan ke warung sebentar sekedar ngeteng “Super” 3 batang. Eh ternyata masih sempat juga kunyalakan 1batang sampai kedatangan Kang KorWil.

bersambung…

7 Hours in Golden Water

Sebenarnya aku sudah lupa punya janji mampir ke tempat Aris jika aku pulang ke Purworejo. Senin 11 April 2011 aku pulang ke Purworejo dengan Kereta malam dari St. Kiara Condong. Tiket masih belum berubah Rp 19.500,- benar-benar ekonomis. Ada sedikit cerita menarik disini. Kiara Condong seperti biasa masih banyak calo berkeliaran. Seorang calo mendekatiku menawarkan tiket.

  • Calo: “Tempat duduk habis mas, tambah 3ribu aja mas dapat tempat duduk.”
  • Aku: “Ga mas,  makasih.”

Aku pun bergegas menuju loket ikut antri. Calo itu ternyata belum menyerah

  • Calo: “Silakan aja klo ga percaya, tempat duduk habis.”
  • Aku: “Makasih mas, berdiri juga gpp.” (sedikit jengkel)

Akhirnya si calo menyerah juga

  • Calo: “Ooh, biasa berdiri ya mas..”

Tiba giliranku di loket.

  • Aku: “kutoarjo pak!”
  • Petugas: “20rb” (sambil menyerahkan tiket)

Kemudian kuserahkan uang 20rb. Kubaca sejenak tiket yang baru saja diserahkan. Dalam hati ku bilang semprulll juga nih petugas.

  • Aku: “20rb ya pak? koq ini tertulis 19500..”
  • Petugas: “ada 500an ga?”
  • Aku: “Ada” (sambil kuserahkan)

Petugas tersebut kemudian memberikan uang 1rb rupiah sebagai kembalian. :D

Setelah dapat tiketnya aku langsung masuk ke dalam stasiun. Kucari bangku kosong untuk menunggu waktu berangkat kereta yang akan kunaiki. Kunyalakan sebatang rokok sekedar sebagai teman dalam penantianku. Tak disangka-sangka tiba-tiba saja mak pettt..! listrik mati he3x.. Parah bener listrik di Indonesia. Stasiun aja sampai gelap gulita gini. Mudah-mudahan kereta tetap berangkat tepat waktu.

Hari Senin 19 April 2011 pukul 21.30 kereta berangkat menuju kutoarjo. tut.. tuuuut.. :) Aku sengaja merebahkan tubuh di dekat pintu keluar gerbong 4, mungkin karena 2 hal – pertama aku ga dapat tempat duduk, kedua aku males cari tempat duduk kosong. Sepanjang perjalanan kuisi dengan sms’an, fesbukan, ngrokok, dan tidur. Tak terasa sudah pukul 1.00 wib ketika aku terbangun dari tidur. Kutengok keluar pintu kereta tiba di stasiun Ciamis. Setengah jam kemudian kereta tiba di stasiun banjar. Ingin rasanya aku merubah rute perjalanan menuju Pangandaran, tapi tak mungkin. Kereta berjalan kembali meninggalkan stasiun banjar menuju tujuan akhir stasiun Kutoarjo. Akuputuskan untuk tidur lagi. Waktu menunjukkan pukul 04.30 wib. Badan ini rasanya sudah tidak kuat lagi lama-lama di dekat pintu karena hawa yang semakin dingin. Aku lalu mencari kursi yang kosong. Akhirnya aku dapat juga kursi yang kosong. Aku tidur lagi. Lumayan juga pikirku tidur 2 jam sebelum sampai kutoarjo.

Pukul 05.30 pagi kereta tiba di stasiun kutoarjo. Sebelum turun kusempatkan cuci muka di toilet kereta.

Akhirnya kuhirup udara segar Kutoarjo. Setelah kira-kira 8 jam perjalan kereta. Suasana pagi emang luar biasa. Sengaja aku tak langsung naik angkot menuju Purworejo. Aku menyempatkan diri berjalan kaki dulu barang beberapa ratus meter. Setelah dirasa cukup puas aku pun lalu naik angkot A menuju Purworejo. Ongkosnya 4ribu rupiah. Setengah jam kemudian aku sampai di alun-alun Purworejo. Masuk gang sebentar akhirnya sampailah di rumah. Home Sweet Home!! :)

Seperti biasa sampai di rumah langsung bikin kopi, nyalain rokok, lalu ngpbrol ma ibu. Kebetulan Mesti dan Bayu sudah sampai lebih dulu, jadi peserta ngobrol tambah satu Mesti. Kebetulan Bayu masih tidur. Mesti adalah saudara kembarku sedangkan Bayu adalah suami dari Mesti.

Hari beranjak siang. Aku segera mandi. Selesai mandi kemudian meres-beres tempat persiapan acara Yasin & tahlil. Pukul 15.30 wib satu per satu para tetangga hadir. Pukul 16.00 acara dimulai. Pak kyai pun memimpin jalannya acara. Pukul 17.00 acara selesai. Beres-beres lagi mengembalikan semua perabot ke posisi semula.

Malam harinya selepas maghrib waktu kuisi dengan silaturahmi ke rumah sobatku Dodok. Kami memang sudah janjian sebelumnya. Kami keluar dengan Expass milik Dodok. Tujuan kami toki alat listrik dan Rental VCD. Aku berencana menghabiskan malam nonton “Into The Wild” dan “The Invention of Lying”. Dua film yang luar biasa.

Malam berlalu, pagi pun menampakkan sinarnya. Waktunya kembali ke Bandung. Aku pamitan dengan semuanya. Sungguh saat yang berat harus berpisah dengan orang-orang yang kucintai.

Mungkin aku sedang sial. Dapat angkot brengsek, sehingga aku ketinggalan kereta. Aku sampai di stasiun pukul 8.30 terlambat 5 menit dari keberangkatan kereta pertama menuju Bandung. Lihat jadwal kereta berikutnya menuju Bandung masih 5 jam lagi. Akhirnya kuputuskan merubah rute perjalanan.

bersambung…

Bukit Moko

Hari Minggu tanggal 27 Maret 2011 jadi saksi kisahku. Desir angin perbukitan, kebun-kebun menghijau di kiri kanan jalan kecil menanjak menyimpan berjuta kenangan yang tak lekang oleh waktu.

Kami berkumpul di Surapati Core pukul 06.58 wib (jadwalnya). Aku datang sedikit terlambat. Di sepanjang perjalanan menuju Surapati Core hati ini dagdigdug kawatir ditinggal rombongan secara masih nubie-ga punya motor-ga tau lokasi. Tiba di Sucore sudah ada 4orang disana. Salken, absen dan kudapati satu persatu nama mereka Wulanpotter, Mas Hendi, Kang Apit, dan Niken. Sebentar kemudian Andri datang disusul dengan Seandy.

Perjalanan dimulai. Kami berangkat menuju bukit Moko. Aku mbonceng Seandy. Jalan aspal sedikit berlobang disertai pasir kami lewati. Kelokan dan tanjakan kami lalui. Hingga akhirnya ujian pertama pun datang. Jupiter MX yang kunaiki tak mampu menaklukkan tanjakan. Aku pun terpaksa jalan kaki 2 tanjakan. Alamaaak… *hosss

Kami sampai di Cartil. Ambil tempat duduk pesen kopi, mie double, keluarkan rokok dan bulll.. nikmatnya mix asap tembakau dan pahitnya kopi bercanpur segarnya angin pegunungan di pagi hari.

Halim datang Topik pun datang. “Double satu lagi pak!” hehee..
Istirahat, makan, ngopi, udud dirasa cukup. Kami melanjutkan perjalan ke bukit Moko.

Tiba di bukit Moko. Bandung terlihat sangat elok dari atas sini meski masih di selimuti halimun. Tak lupa kami poto-poto, maho2an, bikin skandal, dan pokok acara perkenalan serta membahas seputar BPC Reg. Bandung – next trip dan kaos. Next trip ditetapkan tracking Tahura-Maribaya, sedangkan kaos disepakati merupakan simbol pencapaian (achievement) kita bersama BPC Reg. Bandung.

Matahari telah menampakkan panasnya. Tiba saatnya kami kembali ke aktivitas masing-masing. Dalam benak kami semua menanti akan perjalanan berikutnya karena dalam setiap perjalanan sesingkat apapun akan mendewasakan kita.

Penunggang Kuda dari Yogyakarta

Kudaku lari kencang,

Menembus institusi pendidikan,

Entah apa yang kulakukan…

Pertolongan atau kerusakan?

Categories: Kisah Tag:

Malam

Ketika matahari menghilang di kejauhan,

Bulan dan bintang menampakkan wajahnya,

Kusadari ini bukanlah akhir namun hanya pergantian semata

Segala sesuatu telah diatur masanya.

 

Categories: Uncategorized

Renungan

“Apakah yang dimaksud dengan kebodohan? Mungkin suatu keadaan dimana seseorang tidak menyadari akan kebodohannya.”

“Mungkinkah seseorang yang belum sampai pada tujuan perjalanannya mengatakan bahwa orang lain (yang juga sedang menempuh perjalanan yang sama) telah salah jalan atau tersesat?”

Categories: Kisah Tag:

Disiplin

Suatu ketika saya sempat berbincang-bincang dengan dengan saya yang pernah bekerja selama 3 tahun di Jepang. Sudah menjadi kebiasaan jika saya pulang ke Purworejo, kami selalu menyempatkan diri untuk ‘ndopok’ (=ngobrol) barang semalam. Kami berbicara panjang lebar, nostalgia masa sekolah, cerita masa-masa dulu, membahas teman-teman yang lain. Hingga tiba-tiba perbincangan sampai kepada kebiasaan orang-orang Jepang.

Kata orang, orang jepang itu disiplin. Apa iya sih? Ternyata temanku membenarkan. Dia bilang, “Kita ga usah muluk-muluk dulu lah dengan pembangunan yang tinggi. Kita rubah dulu lah kebiasaan kita dengan sampah. Orang Jepang itu bener-bener peduli dengan sampah. Bahkan mereka mau memisahkan mana yang sampah kering, sampah basah, plastik, logam, kaca dll..” bertolak belakang dengan orang kita yang buang sampah aja masih sembarangan. Semakin direnungi saya jadi berpikir mungkin itu sebabnya mengapa Jepang yang kecil bisa menjadi sangat maju seperti sekarang ini.

Sahabat, mari kita sama-sama perbaiki kebiasaan kita dari hal-hal yang paling kecil sekalipun. MARI BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA, MARI JAGA LINGKUNGAN KITA TETAP BERSIH.

Categories: Kisah Tag:,

Kecerdasan Spiritual

Di jaman transisi seperti sekarang ini, banyak pengelola proyek sedang
bersusah hati, karena harus mempertanggung jawabkan “sesuatu”
yang tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya. Konon, proyek ratusan
milyar, belum apa-apa sudah dipotong “sekian persen”, untuk
biaya menge”gol”kannya. Belum lagi pengeluaran, kunjungan para
pejabat, untuk meninjau proyek yang kerap dilakukan. Memang tidak ada
keharusan memberikan `sangu’, tetapi kalau tidak ?

Aparat pemeriksa datangnya bergelombang, dari Irjen, BPK sampai dengan
Kejaksaan, sekarang ditambah dengan KPK – semuanya memerlukan dana
diluar mata anggaran. Belum lagi kalau ada “temuan”, habislah
sudah! Proyek yang tadinya berkah, yang dilaksanakan sebagai amanah,
akhirnya menjadi musibah. Celakanya, ketika musibah datang, sang pimpro
harus mempertanggung jawabkannya sendiri.

Keluhan disektor swasta juga ada. Di suasana bisnis yang turbulen (tidak
menentu), perusahaan sering berubah arah kebijakan. Sistem Informasi
yang belum selesai dibangun, sudah diubah karena ada kebijakan atau
perubahan pimpinan. Keadaan tidak menentu itu, tentu akan mengakibatkan
pemborosan sumber daya dan jam lembur untuk menyelesaikan
‘pesanan’ menjadi lebih panjang. Belum lagi semangat kerja yang
pasti akan menurun, karena sepertinya ‘hasil kerja’ sebelumnya
menjadi sia-sia. Keraguan-raguan muncul ketika memulai suatu pekerjaan,
apakah ini tidak akan sia-sia lagi ? Kalau fakta-fakta pemborosan,
dilontarkan dengan cara yang tidak pas, yang terjadi adalah
‘bentakan’ dari atasan – ‘apakah kamu mampu
menyelesaikan tugas ini ?’ – kalau sudah demikian karir anda
akan terhambat, lebih parah lagi, bisa tamat.

Hal-hal diatas, tentu akan menyebabkan pergulatan bathin sehingga
menjadi sedih gundah gulana. Kebanggaan anda menjadi pemimpin proyek
seakan ditenggalamkan oleh permasalahan yang sedang melanda.

- – -

Read more…

Categories: Kisah

RAGAM INVESTASI SYARIAH

RAGAM INVESTASI SYARIAH
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Majalah ALIA

Pada edisi yang lalu kita sudah membahas pentingnya memperhatikan masalah keuangan agar tetap berada dalam rambu syariah. Kita juga sudah sedikit membahas unsur-unsur apa saja yang harus dihindari karena tidak halal dalam sebuah produk keuangan.

Menggunakan produk keuangan, di jaman seperti ini rasanya sudah tidak mungkin dihindari. Perbankan, selian sebagai digunakan untuk mmepermudah transaksi juga dapat digunakan sebagai sarana investasi. Asuransi juga sekarang memiliki peran sebagai alat investasi berbarengan dengan fungsi utamanya untuk memberikan proteksi.

Tidak puas dengan hanya investasi di perbankan dan asuransi, masyarakat juga mulai banyak melirik reksa dana sebagai alternatif yang memberikan hasil lebih baik. Pendeknya, produk keuangan sekarang bukan lagi suatu hal yang baru. Malah sudah menjadi suatu kebutuhan untuk hampir semua orang.

Lalu bagaimana dengan banyaknya produk keuangan yang ternyata “rawan” sekali mengandung unsur-unsur yang tidak halal? Perbankan misalnya, tentunya sangat kental sekali dengan unsur bunga yang bisa dikategorikan sebagai riba. Belum lagi dengan asuransi. Sudah banyak dipahami bahwa asuransi sering diasosiasokan dengan judi atau maysir dan gharar atau ketidakjelasan. Dan kalau ditelisik lebih jauh lagi, ternyata asuransi juga tidak terlepas dari praktek riba karena memiliki unsur investasi yang berbunga. Begitu juga dengan reksa dana, walaupun secara sederhana reksa dana dapat dianalogikan seperti kegiatan bagi hasil diantara para investor dengan manajer investasinya, tapi alokasi investasinya rupanya juga tidak terhindar dari unsur riba. Lalu bagaimana masyarakat muslim akan memanfaatkan produk keuangan untuk kebaikan mereka kalau ternyata banyak sekali ditemukan unsur yang tidak halal dalam berbagai produk keuangan tersebut?

Read more…

Categories: Ekonomi Tag:,

Bagai Kepompong

Teruntuk para sahabat yang menjauh, satu hits dari Sindentosca

Kepompong

Dulu kita sahabat
dengan begitu hangat
mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat
berteman bagai ulat
berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan
kau jauhi diriku karena sesuatu
mungkin ku terlalu bertingkah kejauhan
namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
na na na na na..

Semua yang berlalu
Biarkanlah berlalu
Seperti hangatnya mentari
Siang berganti malam
Sembunyikan sinarnya
Hingga dia bersinar lagi

Terima kasih atas semua kebaikan yang telah kalian berikan, mungkin diriku takkan pernah sanggup untuk membalasnya.

Bandung, 05 April 2010

Categories: Lirik, Musik Tag:,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.