Arsip

Posts Tagged ‘Wisata Purworejo’

Menjelajah Purworejo Bagian#2 – Curug Silangit

Penjelajahan kali ini lebih rame rasanya. Setelah sukses dengan penjelajahan pertama. Banyak cerita-cerita beredar, foto-foto pun bertebaran (hehe,, sok artis bgt). Tambah satu orang peserta kelas berat dalam perjalanan kali ini. Rangga Roxton namanya. Boleh juga dipanggil “Kintel”. Meski kurang bernuansa bacpacker karena memang kami menuju lokasi naik sepeda motor, akan tetapi semangat tetap membara. Bak sekelompok Geng Motor ala Hell Angels-nya Rolling Stones kami memacu sepeda motor kami. Tidak memerlukan cukup banyak waktu akhirnya kami sampai juga di desa somongari. Pos terakhir sebelum kami berjalan kaki menuju lokasi.
Terlebih dahulu kami menitipkan motor yang kami tumpangi ke rumah penduduk sekitar. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan setapak berbatu, melewati tanah-tanah basah berwarna coklat, dan menyusuri tepian sungai berbatu berair jernih. Menyaksikan deretan pohon durian di kejauhan. Jalanan kecil ini kini mulai menanjak dan susah pertanda kami sudah mendekati tujuan. Suara gemuruh air yang terjun dari ketinggian merupakan fenomena khas sebuah air terjun makin terdengar. Semangat semakin berkobar. Kami pun sampai di lokasi.
Tetapi sayang curug yang kami datangi sedang surut airnya. Terasa ada yang kurang sari nuansa keindahannya yang unik. Alam memang menyimpan pesona tersendiri. Seperti biasa kami beristirahat sejenak setibanya di lokasi. Menyempatkan diri bermain-main air, merokok, minum, dan foto-foto. Merasa kurang puas dengan suasana yang ada, kami pun memutuskan untuk naik lagi ke tempat yang lebih tinggi – ke atas air terjun. Kami pun mendaki jalur yang agak miring di sisi kanan air terjun. Sedikit berbahaya tapi menantang dan tentu saja mengasikkan. Terang saja, dikiri kanan kami terbentang jurang terjal. Terpeleset sedikit saja bisa melayang nyawa kami.
Semua kerja keras pasti membawa hasil, semakin berat yang dihadapi semakin besar pula pelajaran hidup yang tersembunyi. Hal semacam itulah yang ingin kami dapatkan. Dan ternyata kerja keras kami tidak sia-sia. Pemandangan di atas sini cukup menyenangkan. Banyak cekungan-cekungan dalam berisi air disini. Tanpa pikir panjang ku lucuti semua pakaian dan terjun bebas..!! Asik bukan?! Sontak kedua temenku pun ikut bergabung. Senang bukan main perasaanku saat itu. Rasa syukur terpanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmatNya. Tidak lupa kami menyempatkan untuk foto-foto, mengabadikan apa yang terjadi hari ini. Kenangan untuk esok hari, lusa, atau masa depan.

Menjelajah Purworejo Bagian #1 – Loano

25 Januari 2010 7 komentar

Sudah lupa tanggalnya hehe,, Akan tetapi aku masih ingat bahwa aku memulai perjalanan menjelajah Purworejo ini bersama sahabatku Aris Roxton. Waktu itu kami berdua hanya nekat dan membulatkan tekad untuk menyegarkan jiwa dan raga. Kami berangkat menuju Loano pagi itu. Singgah sebentar di rumah kakak iparnya Aris untuk sekedar silaturahmi dan menitipkan kendaraan.
Tanpa membuang waktu, setelah berpamitan kami pun langsung berangkat menuju lokasi. Kami tunjuk satu titik puncak di kejauhan sana. “Itu tujuan kita, Ris!”, seruku. Kami berjalan menyusuri kolam, melewati jalan kecil pedesaan yang becek. Kami melewati hamparan sawah-sawah yang mulai menguning. Sungguh Indah!

Tujuan kami masih bertengger di kejauhan. Tampaknya perjalanan masih cukup panjang. Satu lagi rintangan lain menghadang di depan. Sebuah sungai besar mengalir di depan kami. Sungai ini bernama Bogowonto. Hulunya berada di lereng gunung Sumbing. Tentu saja sungai ini tak menciutkan tekad kami berdua menuju puncak tujuan. Kami mulai mencari bagian sungai yang dangkal untuk diseberangi. Sedikit perasaan takut terlintas di hati. Tapi tekad sudah bulat. Pantang kami menyerah di tengah jalan. Satu langkah, dua langkah, dan diikuti langkah-langkah berikutnya akhirnya kami pun berhasil menyeberangi sungai tersebut. Nekad juga ya..!! =)

Kami terus berjalan, meski keringat bercucuran, meski tak tahu rintangan apa lagi menunggu di depan. Sawah ladang kami tundukan, sungai besar bukan hambatan. Jalan mulai menanjak, tampaknya kami semakin dekat dengan tujuan. Di kiri-kanan jalan banyak sekali kami jumpai kebun singkong. Tampaknya penduduk sekitar memanfaatkan lahan disini untuk menanam singkong. Atau mungkin sumber nafkah mereka berasal dari tanaman tersebut. Matahari mulai menampakkan sinarnya menyapa penduduk bumi dengan belaian panasnya. Kami pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah titik puncak yang kami tunjuk secara sembarangan dari bawah sana. Perasaan bahagia, puas, lega, PLONG! relaks selalu menghinggapi setiap kali meraih puncak dengan kerja keras dan tekad pantang menyerah. Itu juga kami rasakan. Kami rehat sejenak, mengambil nafas, dan menghembuskan asap kemenangan – Sampoerna beterbangan. OoHH, nikmatnya…

Sekitar setengah jam kami duduk-duduk di puncak untuk melepas lelah dan memulihkan tenaga. Menikmati indahnya alam ciptaan Sang Maha Kuasa sambil mempelajari apa yang tersirat dibalik ciptaanNya. Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan pulang. Memang tak selamanya kita akan selalu berada di puncak. Satu pelajaran lagi yang dapat kami ambil dari perjalanan kali ini.
Kami menuruni pegunungan ini dengan jalur yang berbeda. Lebih ringan tetapi tetap mengasikkan. Kami bahkan menyempatkan diri mampir di rumah salah seorang teman Aris sewaktu SMU. Orangnya cantik cuma sudah punya suami hehehe..
Apa yang kami lakukan saat ini memberikan kenangan tersendiri yang mungkin takkan pernah kami lupakan. Mungkin suatu hari nanti dapat menjadi bahan cerita dan tertawa di sore hari. Kami sampai di rumah berbekal rasa lelah, kebahagiaan yang unik, dan pengalaman tersendiri. Apa yang mungkin orang lain tidak miliki.

Menjelajah Purworejo Bagian#3 – Gua Seplawan

Minggu ke-3 Romadlon 1429H ini ku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Purworejo meski terkesan “nanggung” sebab Senin aku harus kembali ke Bandung lagi untuk kerja selama 5 hari dan Jumat depannya aku pulang ke Purworejo lagi dan tinggal di sana mpe tanggal 6 Oktober 2008.

Secara kebetulan Aris sekelurga juga pulang ke Purworejo, malah kakaknya Mbak Wit & Mbak Win berangkat pada hari yang sama denganku dari Jakarta. Dan kami pun bertemu di stasiun Kutoarjo. Kami kemudian naik KOPADA sama-sama menuju Kauman – Purworejo kampung halaman kami. Rumahku dan rumah Aris tak begitu jauh, hanya sekitar 100m.

Setelah cukup istirahat dan kangen-kangenan dengan orang tuaku, aku kemudian main ke rumah Aris. Di sana seperti biasanya aku disambut dengan hangat seperti layaknya bagian dari keluarga mereka. Aris kemudian memberitahuku kalau rencana besok kakak-kakaknya ingin jalan-jalan ke Seplawan dan dia mengajakku ikut bersama mereka.

Tanpa pikir panjang kujawab, “Oke! Berangkat…” Kami pun berangkat mengendarai sepeda motor menuju lokasi. Hari itu begitu panas tapi terasa sangat menyenangkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1jam kami pun tiba di lokasi Gua Seplawan. Setelah lapor ke Juru kunci setempat, kami pun bergegas memasuki perut Gua. Suasana di dalam gua sangat indah tapi disisi laen juga sangat mencekam. Rasanya cukup ngeri juga jika berlama-lama di dalam sana. Banyak mitos atau cerita yang beredar seputar gua ini. Ada yang bilang bilang gua ini adalah tempat persembunyian punggawa kerajaan mataram, ada yang bilang ujung gua ini adalah pantai selatan, tapi yang pasti gua ini cukup menyeramkan. Dulu, waktu gua ini pertama ditemukan oleh penduduk sekitar, ditemukan juga di dalamnya sepasang arca seukuran termos tempat menyimpan air panas. Yang istimewa adalah arca itu terbuat dari emas (wah,, bisa kaya nih klo gue yang nemu hehee,,).

Ada satu pesan menarik di pintu masuk gua. Kira-kira begini bunyinya “Lamun siro banter ojo nglancangi, lamun siro pinter ojo nggurui, lamun siro landep ojo natuni.”

Setelah cukup lama berada di dalam gua, kami memutuskan untuk segera keluar. Kami sholat dan istirahat sejenak sekitar mulut gua. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.