Polling

Sumilaking Pedhut Widara Kandhang

Intro

Bisa dikatakan bukan suatu hal yang mudah dilakukan terutama bagi mereka yang terlalu memikirkan masalah biaya. Kami menempuh perjalanan panjang dari Bandung menuju Jakarta, dari Jakarta menuju Balikpapan, selanjutnya 3 jam perjalanan darat menuju Samarinda, kami tinggal disana selama 10 hari, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jogja, diselingi 7 jam perjalanan Jogja-Purworejo pp, sampai akhirnya menyaksikan pagelaran wayang “Sumilaking Pedhut Widara Kandang”.

Berbakti dan Silaturahmi

Adapun tujuan utama kami adalah berbakti dan silaturahmi. Berbakti kepada siapa? kepada orangtua. Kepada ibu yang mengandung maupun yang tidak mengandung, kepada bapak yang menanam benih maupun bapak yang menaungi. Silaturahmi kepada para saudara, kadang, teman, dan semua makhluk.

To be Original

Semua yang kami lakukan adalah supaya anak-anak bangsa ini memahami siapa dirinya, merupakan bagian dari apa, tinggal dimana, punya sejarah apa, apa peninggalannya. Memahami dirinya membuat seseorang dapat menentukan akan menjadi apa dirinya, kemana harus melangkah, dan apa yang harus diperbuat. Mudah saja bagi kita membaca buku, menghafalnya, kemudian menceritakan isi buku tersebut seolah-olah merupakan cerita kita padahal bukan. Menjadi original adalah menceritakan kisah kita sendiri.

Sumilaking Pedhut Widara Kandhang

Diartikan sebagai tersibaknya ‘tirai’ yang menyelimuti di bumi Widara Kandhang. Maknanya adalah segala sesuatunya seketika menjadi jelas. Bumi Widara Kandhang adalah bumi yang selalu diperebutkan.  Menjadi jelas berarti jelas siapa yang benar dan jelas siapa yang salah. Semoga semua mendapat berkah.

Wanita Hebat

Ibuku wanita hebat dan kuat, wanita tangguh penuh kasih sayang. Hatinya untuk seluruh makhluk. Sentuhan kasih sayangnya yang menyibak ‘pedhut’ tersebut. Aura Ibu pertiwi mempesonaku malam itu. ‘Pedhut’ dalam diriku tersibak, memunculkan semangat baru. Tentu saja semangat positif untuk lebih berarti dalam hidup ini. Mengajarkan kepadaku bahwa melaksanakan sesuatu tidak semudah mengucapkannya.

Penutup

Pada akhirnya masing-masing diri perlu merenungi, merasakan, dan membuktikan sendiri ‘pedhut’ apa yang ada dalam diri kita sehingga masing-masing pribadi menjadi tau diri, bisa koreksi diri, melakukan perbaikan diri. Semoga segala pedhut dalam diri sumilak. Semoga berkah bagi diri dan seluruh makhluk.

Rahayu

Banjir

Banjir merupakan anugerah. Anugerah dari Yang Maha Kuasa supaya kita bercermin kembali atas apa yang telah kita telah lakukan. Bercermin atas sampah – dimana kita membuangnya? Bercermin atas selokan, parit, atau sungai – sudahkan sesuai fungsinya? Bercermin atas hutan-hutan dan gunung-gunung – masihkah mereka menjadi hutan atau gunung saat ini?

Banjir merupakan anugerah. Anugerah bagi mereka yang terpilih. Terpilih untuk merasakan akibat banjir. Terpilih untuk saling bahu-membahu menghadapi banjir. Terpilih untuk saling menolong mereka yang merasakan banjir. Terpilih untuk melakukan upaya supaya banjir tidak kembali datang.

Banjir merupakan anugerah. Anugerah bagi mereka yang cinta kebersihan. Mereka ramai-ramai melakukan bersih-bersih selesai banjir melanda. Mereka melakukan perbaikan selesai banjir melanda. Mereka ramai-ramai membersihkan diri dan lingkungan.

Banjir merupakan anugerah. Anugerah karena alam mengembalikan keseimbangan dirinya.

Pelangi Oh Pelangi

Indahnya pelangi sudah diakui semua orang – besar, kecil, tua, tua, muda, kaya, miskin, susah, maupun senang. Indahnya pelangi karena beberapa warna bergandengan erat secara harmonis.  Indahnya pelangi merupakan pelajaran dari alam bahwa keindahan itu karena sikap saling menerima apa pun latar belakangnya. Indahnya pelangi juga mengajarkan bahwa perbedaan tidak menyebabkan musibah, keanekaragaman tidak menyebabkan musibah, tetapi sebaliknya menjadi anugerah jika bergandengan erat dengan harmonis.

Mari kita singkirkan segala angkara dalam diri, segala kesombongan yang selama ini melekat, segala anggapan/perasaan paling benar. Entah itu dalam agama, suku, ras, atau dalam hal-hal kecil misalnya pendapat. Sikap netral, tenang, rendah hati harus kita utamakan. Seperti pesan leluhur duwe rasa, ora duwe rasa duwe (punya rasa, tidak punya rasa punya).

Kembali ke pelangi, pelajaran dari pelangi. Saya juga tidak tahu apakah pelajaran yang dapat dipetik dari pelangi ini disebutkan dalam kitab suci atau tidak. Andaikata tidak tercantum, apakah pelajaran yang nyata indahnya ini dikatakan sesat, mengada-ada, atau lain sebagainya hingga tidak perlu diikuti? Sikap atau pemikiran fatalis seperti ini yang perlu dihindari. Sebab jelas dan nyata dari akal yang sehat dan hati nurani yang bersih terdapat pelajaran berharga dari indahnya pelangi. Terbukti satu hal lagi bahwa petunjuk/wahyu datang ke dalam akal yang sehat dan hati nurani yang bersih tanpa memandang latar belakang agama, ras/suku, dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Mari berjalan bersama bergandengan tangan di muka bumi secara harmonis.

Hamemayu hayuning bawana (mari memperindah dunia)

Suradira jayaning rat lebur dening pangastuti (segala angkara murka sirna dengan kasih sayang)

Menjemput Keajaiban

Telah terbit buku Angkringan for the Soul seri pertama yang diberi judul “MENJEMPUT KEAJAIBAN” karya Ki Sabdalangit. Bahan tulisan buku ini berasal dari blog Ki Sabdalangit (sabdalangit.wordpress.com) yang bertajuk “Membangun Bumi Nusantara Yang Berbudi Pekerti Luhur” (Jalan setapak menggapai spiritualitas sejati). Blog tersebut mendapat simpati dan respon hangat dari banyak pembaca blog. Buku ini menggunakan istilah angkringan, simbol spiritualitas ala Ngayogyakarta Hadiningrat (Jawa) yang disajikan secara merakyat, demokratis, dialogis. Pembaca akan menemukan bahwa di buku ini, yang ada sama sekali bukan monolog, tetapi benar-benar sebuah dialog yang bebas dan terbuka. Diterbitkannya buku ini sebagai sarana dan media untuk nguri-uri kabudayan  adiluhung yang diwariskan para leluhur pendiri Nusantara. Tulisan yang disajikan pada buku ini sangat santai, bisa ngalor ngidul, mirip suasana khas angkringan.

Menjemput Keajaiban
Menjemput Keajaiban

Keajaiban entah apapun nama atau bagaimana kita menyebutnya – Mukjizat, karomah, atau keberuntungan, pada dasarnya sama. Menjemput keajaiban bagi saya pribadi merupakan sebuah kesadaran baru, dimana sebelumnya saya cenderung menunggu keajaiban terjadi. Bahkan sebelumnya saya menganggap bahwa ‘mukjizat’ adalah hak prerogratif ‘orang-orang’ tertentu. Kini saya memahami bahwa keajaiban terbuka bagi siapapun yang meminta dengan sungguh-sungguh dengan laku (tekad, ucapan, dan perbuatan) yang bener lan pener (benar dan pas).

Kini saya mengerti bagaimana ketulusan pada akhirnya mendapatkan balasan yang berlipat-lipat yang bahkan tidak dapat kita duga. Saya juga mengerti bahwa tidak ada sekecil apapun perbuatan yang sia-sia. Yang baik akan mendapat balasan baik pula, begitu pun sebaliknya yang buruk akan mendapat balasan buruk juga.

Layaknya manusia pada umumnya yang banyak keinginan. Setiap memiliki keinginan kita senantiasa memanjatkan doa. Akan tetapi bagaimana kita berdoa? Apakah kita hanya melantunkan keinginan dengan bahasa merdu atau tetesan air mata? Dalam buku ini dijelaskan bahwa doa tak sekedar pemanis mulut. Doa adalah alat atau Tool (baca: TUL). Doa adalah sinergi antara Tekad-Ucapan-Lampah (TUL). Bagaimana kita berdoa akan menentukan keberhasilan cita-cita/keinginan kita.

Sekarang dengan kesadaran baru saya menjemput keajaiban untuk diri saya. Bagaimana Anda?

NB :

Bagi yang berminat silahkan order melalui beberapa cara berikut :

  • Order via email ke admin@sanggar-lakutama.net [format pemesanan : sebutkan jumlah buku yg akan dibeli, nama pemesan & alamat lengkap pengiriman]
  • Order via SMS ke n0m0r 0815 680 8695 [format pemesanan : sebutkan jumlah buku yg akan dibeli, nama pemesan & alamat lengkap pengiriman]

atau

Bagi yang tinggal di wilayah Bandung dan sekitarnya dapat menghubungi kontak berikut :

  • Order via email ke madapurworejo@gmail.com [format pemesanan : sebutkan jumlah buku yg akan dibeli, nama pemesan & alamat lengkap pengiriman]
  • Order via SMS ke nom0r 0857 9488 0398 [format pemesanan : sebutkan jumlah buku yg akan dibeli, nama pemesan & alamat lengkap pengiriman]

Setengah Dua Pagi

Setengah dua pagi aku duduk seorang diri di muka depan rumah kontrakanku. Merasakan sepi yang membisu dan deru angin dini hari yang menggebu. Suara burung deruk dan perkutut sesekali menemaniku mengisi relung pagi akhir libur lebaran ini. Sang cicak pun tak mau kalah dengan decakannya. Lalu lalang tikus got menambah ramai saja kesendirianku ini.

Ada yang berkata merenung sejenak lebih baik daripada ibadah seribu tahun. Ya, aku sedang merenung memikirkan esok hari. Namun apakah yang kulakukan ini sudah semulia itu? Wallahu a’lam. Disela hembusan nafasku terselip hembusan tembakau yang terbakar. Sesekali ku menelan ludah dengan citarasa biji kopi yang larut dalam panasnya air. Kembali ke perenunganku akan esok hari yang tak pasti. Sisa 20rb dikantongku ini masih cukupkah untuk memenuhi kebutuhanku hingga akhir bulan ini? Hutang-hutang yang belum terlunasi, tagihan-tagihan yang belum terbayar, biaya listrik bulan ini.. Ahh, entahlah.. Yang tersisa hanyalah keyakinanku bahwa badai pasti berlalu. Bahwa hujan takkan berhenti sebelum sang pelangi tiba.

Kadang terlintas secercah harapan akan uang spj ku yang tak kunjung terbayar. Kira-kira sudah 3 bulan ini belum ada kabar. Mereka bilang ada satu transaksi yang masih dicekal. Semoga besok ada titik terang menelusup ke dalam lorong kegelapan.

Apapun yang terjadi aku harus selalu semangat. Biarlah pagi ini jadi saksi apa-apa yang sedang kurasakan. Esok kan kukibarkan bendera kemenangan. Bendera kejayaan yang selalu berkibar walau badai datang walau angin tak bertiup walau matahari tak bersinar.

Dari Secangkir Kopi dan Sebatang Rokok

Kopi dan Rokok mungkin menu utamaku sehari-hari. Entah mengapa saya diberi kesenangan akan dua menu tersebut yang di sisi lain dianggap dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Kemana pun aku pergi – ke daerah baru atau kota lain misalnya, selalu aku sempatkan untuk mencoba menikmati kopi khas dari daerah tersebut. Seringkali timbul pertanyaan sebenarnya apa yang saya nikmati dari kopi dan rokok. Beberapa waktu yang lalu aku mungkin tidak bisa jawab. Atau kadang aku jawab, “mereka teman setiaku dalam kesendirian.”
Hingga pagi ini kusadari apa sebenarnya hakikat kopi dan rokok tersebut. Kopi itu hitam, kelam, pahit, sedikit gula membuatnya sempurna. Sedang rokok itu hanyalah asap dari tembakau dan paper yang terbakar. Kopi dan rokok pada hakikatnya adalah lika-liku kehidupan. Ada yang tampak pahit, hitam dan kelam tapi ternyata menghasilkan kenikmatan. Ada yang menggamparkan sebagai asap, yaitu kenikmatan hanyalah sementara dan akan segera hilang dihembus angin.

 

 

 

Atas Merah Bawah Putih

Coba bayangkan apa saja yang memiliki komposisi warna demikian – atas merah bawah putih. Namun, yang saat ini terlintas di pikiranku hanyalah bendera dan bubur. Merah dan putih memang sangat melekat dalan relung kehidupan kita. Bahkan dalam tubuh kita didominasi warna merah dan putih. Merah dan putih harus harmonis dan seimbang, tidak saling mengungguli sehingga terwujud keseimbangan. Misal dalam darah, darah merah dan darah putih harus seimbang kadarnya. Jika salah satu lebih dari yang lainnya maka timbullah gejolak (penyakit).

Merah sering diartikan dengan ‘kebenaran’ – Berani karena benar, sedangkan putih merupakan ‘kesucian’. Jadi dalam bendera negara kita warna merah diatas putih maksudnya ‘Kebenaran diatas Kesucian’.